Kalangan wanita Garut patutnya berbangga sebab mereka pernah memiliki panutan yang viral pada masanya. Pasalnya sosok panutan ini merupakan tokoh wanita intelektual pertama di Indonesia yang berasal dari keturunan asli Garut. Ia menjadi wanita pribumi yang berhasil keluar dari gelapnya peradaban. Yang mana wanita pada umumnya tidak memiliki kekuatan apapun dikalangan masyarakat. Pada masa itu, hak seorang wanita tidak menjadi prioritas baik dalam mendapatkan pendidikan begitupula dalam hal menentukan masa depannya sendiri. Wanita kerap menjadi korban perjodohan. Ini menjadi salah satu semangat yang ia perjuangkan untuk mewujudkan emansipasi wanita. Ia menularkan perjuangannya melalui berbagai cara yaitu lewat pendidikan. Selain itu juga ia siratkan melalui saduran cerita berupa karya-karyanya.
Memasuki abad 21 ini semangat perjuangan dan karyanya belum seutuhnya dikenal oleh khalayak umum, bahkan oleh masyarakat Garut sekalipun. Ia luput dari perhatian khazanah sejarah Indonesia. Ia tidak seviral dua tokoh wanita yang dikenang sepanjang masa. Sebut saja Raden Ajeng Kartini dan Raden Dewi Sartika. Padahal bila ditelisik lebih jauh, tokoh wanita ini hadir lebih dahulu sebelum Raden Ajeng Kartini (1879) dan Raden Dewi Sartika (1884) lahir. Eksistensinya lebih dahulu muncul lewat semangat dan tekadnya bergelut dalam bidang literasi. Justru Raden Ajeng Kartini dan Raden Dewi Sartika terinspirasi atas perjuangannya. Sebab Ia telah mengguratkan banyak inspirasi terutama bagi kaum wanita. Ia mendobrak emansipasi wanita agar sejajar dengan kaum pria dalam rangka literasi.
Namanya Raden Ayu Lasminingrat. Ia kelahiran tahun 1843 dan merupakan anak dari Raden Haji Moesa. Pada saat itu, Lasminingrat merupakan anak dari Putra Patih Limbangan, Penghulu Bintang Limbangan dan Pelopor kesusastraan Sunda. Berawal dari kondisi orang tua yang tersohor membuatnya memperoleh akses pendidikan barat. Dari sinilah pemikirannya mulai terbuka dengan ilmu pengetahuan. Lasminingrat memiliki otak yang cerdas, kemauan keras dan cita-cita tinggi serta tekun belajar. Dimana saat itu tidak ada wanita pribumi yang melek pengetahuan. Lasminingrat menjadi wanita sunda pertama yang fasih bercakap-cakap dalam bahasa Belanda.
Lasminingrat menyadari pentingnya pendidikan bagi kaum wanita dan ia terobsesi dengan mindset wanita harus maju. Lewat pemikirannya itu, Lasminingrat melakukan strategi dengan halus untuk mencerdaskan kehidupan anak bangsa. Meskipun saat itu, Lasminingrat menjabat sebagai ibu dalem Garut yang mana posisinya berada dalam jajaran pemerintahan jajahan alias ada pada kungkungan kolonial. Lasminingrat tetap membantu bangsanya menuju perubahan melalui pendidikan.
Langkah awalnya dimulai dari ia menyampaikan hasil bacaannya untuk anak-anak. Pengetahuan yang ia miliki diajarkan kepada anak-anak pribumi. Lasminingrat pun turut mengelola sekolah yang didirikan oleh ayahnya. Kemudian tahun 1907, Lasminingrat mendirikan sakolah kautamaan istri dan kembali membangun sakolah istri untuk kaum perempuan yang kini menjadi SMA Negri 11 Garut.
Maha Karya Lasminingrat
Hal lain yang dilakukan Lasminingrat diluar kegiatan mengajar dan mendirikan sakolah adalah aktif dalam menulis buku. Karya-karyanya mampu mempengaruhi pembaca dan mendorong pribumi untuk melek huruf latin. Karyanya berupa buku-buku bacaan untuk anak sekolah yakni Tjarita Erman terbit tahun 1875. Tjarita Erman menjadi buku wajib yang dimiliki oleh anak-anak pribumi. Buku ini terbilang sukses karena dicetak sebanyak 6105 eksemplar. Selain itu ditulis menggunakan aksara Jawa dan latin dan dicetak ulang pada tahun 1911 dan 1922 dengan terjemahan ke bahasa Melayu.
Maha karya ini temasuk kesuksesan terbesar dalam literasi kebangsaan. Pasalnya, diera keterbatasan literasi pribumi, justru karya ini diproduksi secara besar-besaran dan dicetak berulang-ulang. Pribumi yang notabenenya tidak melek latin tergerak untuk membaca sehingga pemikiran Lasminingrat dapat diterima dengan baik kala itu. Dalam karya ini, Lasminingrat menegaskan cara wanita dalam mendidik dan memperlakukan anak.
"Jangan sekali-kali di soeroeh mempermainkan apa-apa yang ta' baik dimakannja tambahan poela djangan dimaki atau dimarahi ija, apalagi dipoekoel karena anak itoe beloem berakal. Adapoen orang memelihara kan dan menjdjaga anak-anak itoe haroeslah sebagai malaikat memelihara dan menjdjaga kita". (Raden Ayu Lasminingrat, Hikajat Erman terbitan Perpustakaan Nasional RI, Balai Pustaka, 1919, Halaman 4)
Karya berikutnya berupa kumpulan dongeng warnasari jilid 1 dan 2. Ini terbit pada tahun 1876. Warnasari merupakan karya saduran yang ditulis kembali dengan menyesuaikan alam dan budaya setempat. Cerita dalam warnasari ini menyajikan permasalahan yang lebih komplek seperti ambisi kekuasaan, keberanian, tekad, percintaan dan perjodohan. Ini lebih membuka ruang dialektika untuk pembaca dari kalangan remaja dan dewasa.
Terlihat dari cara Lasminingrat menghadirkan kisah berjudul Sang Radja Poetri Jeung Saderekna Doewa Welas. Hadirnya seorang perempuan yang mengalami diskriminasi lewat tubuhnya hanya untuk memenuhi nafsu suaminya. Perempuan itu dipaksa untuk melahirkan bahkan sampai 12 kali untuk memberikan keturunan anak perempuan pula. Namun, hingga melahirkan kesekian kalinya, anak perempuan tidak kunjung lahir. Setelah kelahiran yang ketiga belas, anak perempuan pun hadir. Sang suami tidak memperdulikan tubuh istrinya yang kerap diisi dengan manusia baru tanpa diberikan apresiasi dan perhatian serta dukungan moral. Tegasnya Lasminingrat menyuguhkan cerita ini untuk menyadarkan bahwa perempuan memiliki hak yang harus dipenuhi bukan hanya sekedar tanggung jawab mengandung dan melahirkan keturunan begitu saja.
Dalam tulisan Lasminingrat menyorot peran seorang anak perempuan yang dibatasi ruang lingkupnya. Saat kakak-kakak laki-laki bekerja diluar, adik perempuan disuruh memasak dan menunggui rumah serta membersihkan perabotan. Begitupun dalam peperangan, seorang perempuan tidak boleh kemana-mana, cukup menunggu di keraton. Kisah ini mencerminkan hak perempuan dalam memperoleh keadilan dan perlakuan yang sama terbatas. Bagi ayahnya, kehadiran peremuan itu diperuntukan mengurus keperluan domestik keraton saja. Ketidakadilan perempuan pun diraasakan menjelang pernikahannya. Ada aturan kaum menak harus menikah dengan kaum menak. Tradisi ini masih kental demi kelanggengan suatu kekuasaan maka anak perempuan yang tidak jelas asal-usulnya ini tidak jadi dipersunting oleh anak raja.
Karya lain yang semakin memperkuat kepeduliannya terhadap kaum wanita yaitu cerita saduran berjudul Tjarita Oraj Bodas (cerita ular putih). Kisah ini diangkatnya kala melihat fenomena yang terjadi dilingkungannya, kaum wanita kerap mengalami perjodohan meskipun tidak dilandasi oleh rasa cinta. Lasminingrat menolak perjodohan yang dinilainya tidak mendatangkan kebahagiaan.
“…Saya menolak semua yang melamar karena belum ada yang cocok. Bukannya saya tidak mau mengikuti, bukan juga karena saya tidak sayang pada orang tua, justru karena saya sangat sayang; jika saya menikah dengan yang tidak saya cintai itu mudah saja, hanya akhirnya siapa yang akan menanggung kalau bukan diri saya sendiri…” kiranya penggalan dari Tjarita Oraj Bodas.
Lasminingrat berpandangan kaum wanita harus memahami konsekuensi dari perjodohan. Perjodohan dijadikan salah satu cara untuk melanggengkan kekuasaan pada kalangan bangsawan. Lasminingrat tidak ingin melihat kaum wanita terus menderita pasca pernikahan akibat perjodohan yang terjadi. Ia menyampaikan pesan tersiratnya melalui salah satu tokoh putri dengan penggalan kalimat didalamnya.
“…dan itu pula yang saya pikirkan, orang tua sudah tua, sekarang saya dihargai karena saya masih punya orang tua, nanti jika orang tua saya sudah meninggal, tidak akan ada yang mengutamakan saya, tidak akan ada yang memberi hormat, apalagi jika saya menikah secara sembrono, tidak memilih pasangan yang sayang pada saya atau kepada orang tua saya, bagaimana orang tua tidak khawatir meninggalkan saya?...”.
“…Dan bagaimana tidak enaknya melihat atau mendengar, lumrahnya lelaki hanya sayang suka dan cinta pada awalnya saja, jarang-jarang yang selamanya, saya sekedar ikhtiar sebelum datang takdir, siapa tahu ada lelaki yang hatinya tetap baik , jika hanya sekedar cinta saja semua yang melamar saya pasti cinta, tetapi saya tidak cinta dengan tingkah lakunya, itu alasan kenapa saya menolak, bukannya tidak mengikuti, bukan tidak patuh pada orang tua, bukan juga menghindar dari takdir tidak mau menikah.” (Tjarita Oraj Bodas, hlm 115, 116)
Lasminingrat berhasil mengkritisi fenomena ini melalui karyanya. Terbukti sejauh 150 tahun ini perjodohan sudah mulai berkurang. Banyak wanita terinspirasi dan terbuka pemikirannya untuk memperjuangkan hak-haknya terutama dalam menemukan pasangan hidupnya sendiri.
Kini melalui karya hebatnya, lambat laun banyak yang mulai mengenal dan tertarik untuk mengulik kisah hidup Lasminingrat. Namanya semakin ramai diperbincangkan bahkan media nasional yaitu majalah Historia Edisi 1 tahun 2012 meliput kisah Lasminingrat yang bertajuk “Tapak Perempuan Nusantara”. Lasminingrat masuk kedalam 50 tokoh perempuan inspiratif. Kini Lasminingrat diusulkan untuk masuk dalam daftar pahlawan yang pernah berjasa menorehkan perjuangan lewat abdi dan karyanya. Lasminingrat menjadi salah satu tokoh paling berpengaruh di Garut. Semangat Lasminingratini selayaknya diteruskan oleh wanita-wanita Indonesia terutama wanita Garut sebagai penerusnya.
Pelajaran yang perlu ditiru dari Lasminingrat yakni semangat belajarnya. Lasminingrat menjadikan ilmu sebagai peradaban. Dengan melek ilmu bangsa akan maju terutama kaum wanita yang kerap terabaikan hak-haknya. Tidak mudah berada dalam kungkungan kolonial tetapi Ia masih mau menggerakan bangsa sendiri untuk keluar dari pemikiran primitif.
Lasminingrat pun aktif dalam kepenulisan bukan karena semata-mata ia merasa pintar. Justru menulis itu kebiasaannya sebab tidak pernah menunda membaca dan menulis. Menulis baginya merupakan upaya untuk merawat atau melanggengkan ingatan. Lasminingrat khawatir akan lupa terhadap apa yang telah Ia baca sehingga hasil bacaannya menjadi sebuah ide dan ceritanya direkontruksikan berdasarkan pengalaman pribadi maupun fenomena yang terjadi pada sekitarnya. Dalam menulis pun, Lasminingrat merasakan faedahnya dapat mengalihkan dirinya dari segala kegelisahan dan kebimbangan. Ada perasaan lega ketika ia mewujudkan kegelisahannya menjadi sebuah karya.
Selain itu, jiwa kepedulian yang tinggi terhadap kaum wanita dan anak-anak menjadikannya aktif menularkan pengetahuannya. Ia turut mengajar dan berkarya. Sebagai wanita terdidik membuatnya berempati terhadap nasib kaum wanita melalui karyanya. Meskipun ia menunjukkannya tersirat melalui cerita saduran tetapi mampu tersampaikan dengan baik. Oleh karenanya, Lasminingrat patut dijadikan sosok wanita inspiratif yang penuh perjuangan merebut hak-hak kaum wanita pada umumnya.
Sumber Rujukan:
1. Lasminingrat, Raden Ayu. 1919. Hikajat Erman. Perpustakaan Nasional RI, Balai Pustaka.
2. Ekadjati, Edi. S, dkk. 1998. Sejarah Pendidikan Daerah Jawa Barat. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI : Jakarta
3. https://magdalene.co/story/lasminingrat-lawan-perjodohan-di-tatar-sunda-lewat-sastra
Memasuki abad 21 ini semangat perjuangan dan karyanya belum seutuhnya dikenal oleh khalayak umum, bahkan oleh masyarakat Garut sekalipun. Ia luput dari perhatian khazanah sejarah Indonesia. Ia tidak seviral dua tokoh wanita yang dikenang sepanjang masa. Sebut saja Raden Ajeng Kartini dan Raden Dewi Sartika. Padahal bila ditelisik lebih jauh, tokoh wanita ini hadir lebih dahulu sebelum Raden Ajeng Kartini (1879) dan Raden Dewi Sartika (1884) lahir. Eksistensinya lebih dahulu muncul lewat semangat dan tekadnya bergelut dalam bidang literasi. Justru Raden Ajeng Kartini dan Raden Dewi Sartika terinspirasi atas perjuangannya. Sebab Ia telah mengguratkan banyak inspirasi terutama bagi kaum wanita. Ia mendobrak emansipasi wanita agar sejajar dengan kaum pria dalam rangka literasi.
Namanya Raden Ayu Lasminingrat. Ia kelahiran tahun 1843 dan merupakan anak dari Raden Haji Moesa. Pada saat itu, Lasminingrat merupakan anak dari Putra Patih Limbangan, Penghulu Bintang Limbangan dan Pelopor kesusastraan Sunda. Berawal dari kondisi orang tua yang tersohor membuatnya memperoleh akses pendidikan barat. Dari sinilah pemikirannya mulai terbuka dengan ilmu pengetahuan. Lasminingrat memiliki otak yang cerdas, kemauan keras dan cita-cita tinggi serta tekun belajar. Dimana saat itu tidak ada wanita pribumi yang melek pengetahuan. Lasminingrat menjadi wanita sunda pertama yang fasih bercakap-cakap dalam bahasa Belanda.
Lasminingrat menyadari pentingnya pendidikan bagi kaum wanita dan ia terobsesi dengan mindset wanita harus maju. Lewat pemikirannya itu, Lasminingrat melakukan strategi dengan halus untuk mencerdaskan kehidupan anak bangsa. Meskipun saat itu, Lasminingrat menjabat sebagai ibu dalem Garut yang mana posisinya berada dalam jajaran pemerintahan jajahan alias ada pada kungkungan kolonial. Lasminingrat tetap membantu bangsanya menuju perubahan melalui pendidikan.
Langkah awalnya dimulai dari ia menyampaikan hasil bacaannya untuk anak-anak. Pengetahuan yang ia miliki diajarkan kepada anak-anak pribumi. Lasminingrat pun turut mengelola sekolah yang didirikan oleh ayahnya. Kemudian tahun 1907, Lasminingrat mendirikan sakolah kautamaan istri dan kembali membangun sakolah istri untuk kaum perempuan yang kini menjadi SMA Negri 11 Garut.
Maha Karya Lasminingrat
Hal lain yang dilakukan Lasminingrat diluar kegiatan mengajar dan mendirikan sakolah adalah aktif dalam menulis buku. Karya-karyanya mampu mempengaruhi pembaca dan mendorong pribumi untuk melek huruf latin. Karyanya berupa buku-buku bacaan untuk anak sekolah yakni Tjarita Erman terbit tahun 1875. Tjarita Erman menjadi buku wajib yang dimiliki oleh anak-anak pribumi. Buku ini terbilang sukses karena dicetak sebanyak 6105 eksemplar. Selain itu ditulis menggunakan aksara Jawa dan latin dan dicetak ulang pada tahun 1911 dan 1922 dengan terjemahan ke bahasa Melayu.
Maha karya ini temasuk kesuksesan terbesar dalam literasi kebangsaan. Pasalnya, diera keterbatasan literasi pribumi, justru karya ini diproduksi secara besar-besaran dan dicetak berulang-ulang. Pribumi yang notabenenya tidak melek latin tergerak untuk membaca sehingga pemikiran Lasminingrat dapat diterima dengan baik kala itu. Dalam karya ini, Lasminingrat menegaskan cara wanita dalam mendidik dan memperlakukan anak.
"Jangan sekali-kali di soeroeh mempermainkan apa-apa yang ta' baik dimakannja tambahan poela djangan dimaki atau dimarahi ija, apalagi dipoekoel karena anak itoe beloem berakal. Adapoen orang memelihara kan dan menjdjaga anak-anak itoe haroeslah sebagai malaikat memelihara dan menjdjaga kita". (Raden Ayu Lasminingrat, Hikajat Erman terbitan Perpustakaan Nasional RI, Balai Pustaka, 1919, Halaman 4)
Karya berikutnya berupa kumpulan dongeng warnasari jilid 1 dan 2. Ini terbit pada tahun 1876. Warnasari merupakan karya saduran yang ditulis kembali dengan menyesuaikan alam dan budaya setempat. Cerita dalam warnasari ini menyajikan permasalahan yang lebih komplek seperti ambisi kekuasaan, keberanian, tekad, percintaan dan perjodohan. Ini lebih membuka ruang dialektika untuk pembaca dari kalangan remaja dan dewasa.
Terlihat dari cara Lasminingrat menghadirkan kisah berjudul Sang Radja Poetri Jeung Saderekna Doewa Welas. Hadirnya seorang perempuan yang mengalami diskriminasi lewat tubuhnya hanya untuk memenuhi nafsu suaminya. Perempuan itu dipaksa untuk melahirkan bahkan sampai 12 kali untuk memberikan keturunan anak perempuan pula. Namun, hingga melahirkan kesekian kalinya, anak perempuan tidak kunjung lahir. Setelah kelahiran yang ketiga belas, anak perempuan pun hadir. Sang suami tidak memperdulikan tubuh istrinya yang kerap diisi dengan manusia baru tanpa diberikan apresiasi dan perhatian serta dukungan moral. Tegasnya Lasminingrat menyuguhkan cerita ini untuk menyadarkan bahwa perempuan memiliki hak yang harus dipenuhi bukan hanya sekedar tanggung jawab mengandung dan melahirkan keturunan begitu saja.
Dalam tulisan Lasminingrat menyorot peran seorang anak perempuan yang dibatasi ruang lingkupnya. Saat kakak-kakak laki-laki bekerja diluar, adik perempuan disuruh memasak dan menunggui rumah serta membersihkan perabotan. Begitupun dalam peperangan, seorang perempuan tidak boleh kemana-mana, cukup menunggu di keraton. Kisah ini mencerminkan hak perempuan dalam memperoleh keadilan dan perlakuan yang sama terbatas. Bagi ayahnya, kehadiran peremuan itu diperuntukan mengurus keperluan domestik keraton saja. Ketidakadilan perempuan pun diraasakan menjelang pernikahannya. Ada aturan kaum menak harus menikah dengan kaum menak. Tradisi ini masih kental demi kelanggengan suatu kekuasaan maka anak perempuan yang tidak jelas asal-usulnya ini tidak jadi dipersunting oleh anak raja.
Karya lain yang semakin memperkuat kepeduliannya terhadap kaum wanita yaitu cerita saduran berjudul Tjarita Oraj Bodas (cerita ular putih). Kisah ini diangkatnya kala melihat fenomena yang terjadi dilingkungannya, kaum wanita kerap mengalami perjodohan meskipun tidak dilandasi oleh rasa cinta. Lasminingrat menolak perjodohan yang dinilainya tidak mendatangkan kebahagiaan.
“…Saya menolak semua yang melamar karena belum ada yang cocok. Bukannya saya tidak mau mengikuti, bukan juga karena saya tidak sayang pada orang tua, justru karena saya sangat sayang; jika saya menikah dengan yang tidak saya cintai itu mudah saja, hanya akhirnya siapa yang akan menanggung kalau bukan diri saya sendiri…” kiranya penggalan dari Tjarita Oraj Bodas.
Lasminingrat berpandangan kaum wanita harus memahami konsekuensi dari perjodohan. Perjodohan dijadikan salah satu cara untuk melanggengkan kekuasaan pada kalangan bangsawan. Lasminingrat tidak ingin melihat kaum wanita terus menderita pasca pernikahan akibat perjodohan yang terjadi. Ia menyampaikan pesan tersiratnya melalui salah satu tokoh putri dengan penggalan kalimat didalamnya.
“…dan itu pula yang saya pikirkan, orang tua sudah tua, sekarang saya dihargai karena saya masih punya orang tua, nanti jika orang tua saya sudah meninggal, tidak akan ada yang mengutamakan saya, tidak akan ada yang memberi hormat, apalagi jika saya menikah secara sembrono, tidak memilih pasangan yang sayang pada saya atau kepada orang tua saya, bagaimana orang tua tidak khawatir meninggalkan saya?...”.
“…Dan bagaimana tidak enaknya melihat atau mendengar, lumrahnya lelaki hanya sayang suka dan cinta pada awalnya saja, jarang-jarang yang selamanya, saya sekedar ikhtiar sebelum datang takdir, siapa tahu ada lelaki yang hatinya tetap baik , jika hanya sekedar cinta saja semua yang melamar saya pasti cinta, tetapi saya tidak cinta dengan tingkah lakunya, itu alasan kenapa saya menolak, bukannya tidak mengikuti, bukan tidak patuh pada orang tua, bukan juga menghindar dari takdir tidak mau menikah.” (Tjarita Oraj Bodas, hlm 115, 116)
Lasminingrat berhasil mengkritisi fenomena ini melalui karyanya. Terbukti sejauh 150 tahun ini perjodohan sudah mulai berkurang. Banyak wanita terinspirasi dan terbuka pemikirannya untuk memperjuangkan hak-haknya terutama dalam menemukan pasangan hidupnya sendiri.
Kini melalui karya hebatnya, lambat laun banyak yang mulai mengenal dan tertarik untuk mengulik kisah hidup Lasminingrat. Namanya semakin ramai diperbincangkan bahkan media nasional yaitu majalah Historia Edisi 1 tahun 2012 meliput kisah Lasminingrat yang bertajuk “Tapak Perempuan Nusantara”. Lasminingrat masuk kedalam 50 tokoh perempuan inspiratif. Kini Lasminingrat diusulkan untuk masuk dalam daftar pahlawan yang pernah berjasa menorehkan perjuangan lewat abdi dan karyanya. Lasminingrat menjadi salah satu tokoh paling berpengaruh di Garut. Semangat Lasminingratini selayaknya diteruskan oleh wanita-wanita Indonesia terutama wanita Garut sebagai penerusnya.
Pelajaran yang perlu ditiru dari Lasminingrat yakni semangat belajarnya. Lasminingrat menjadikan ilmu sebagai peradaban. Dengan melek ilmu bangsa akan maju terutama kaum wanita yang kerap terabaikan hak-haknya. Tidak mudah berada dalam kungkungan kolonial tetapi Ia masih mau menggerakan bangsa sendiri untuk keluar dari pemikiran primitif.
Lasminingrat pun aktif dalam kepenulisan bukan karena semata-mata ia merasa pintar. Justru menulis itu kebiasaannya sebab tidak pernah menunda membaca dan menulis. Menulis baginya merupakan upaya untuk merawat atau melanggengkan ingatan. Lasminingrat khawatir akan lupa terhadap apa yang telah Ia baca sehingga hasil bacaannya menjadi sebuah ide dan ceritanya direkontruksikan berdasarkan pengalaman pribadi maupun fenomena yang terjadi pada sekitarnya. Dalam menulis pun, Lasminingrat merasakan faedahnya dapat mengalihkan dirinya dari segala kegelisahan dan kebimbangan. Ada perasaan lega ketika ia mewujudkan kegelisahannya menjadi sebuah karya.
Selain itu, jiwa kepedulian yang tinggi terhadap kaum wanita dan anak-anak menjadikannya aktif menularkan pengetahuannya. Ia turut mengajar dan berkarya. Sebagai wanita terdidik membuatnya berempati terhadap nasib kaum wanita melalui karyanya. Meskipun ia menunjukkannya tersirat melalui cerita saduran tetapi mampu tersampaikan dengan baik. Oleh karenanya, Lasminingrat patut dijadikan sosok wanita inspiratif yang penuh perjuangan merebut hak-hak kaum wanita pada umumnya.
Sumber Rujukan:
1. Lasminingrat, Raden Ayu. 1919. Hikajat Erman. Perpustakaan Nasional RI, Balai Pustaka.
2. Ekadjati, Edi. S, dkk. 1998. Sejarah Pendidikan Daerah Jawa Barat. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI : Jakarta
3. https://magdalene.co/story/lasminingrat-lawan-perjodohan-di-tatar-sunda-lewat-sastra
4. https://www.jurnalperempuan.org/wacana-feminis/lasminingrat-bersuara-untuk-perempuan-melalui-sastra
Komentar
Posting Komentar